Sabtu, 14 Mei 2016

SEJARAH KAMPUNG KRAPYAK, DESA PANGGUNGHARJO, KECAMATAN SEWON, KABUPATEN BANTUL, D.I. YOGYAKARYA



SAUJANA SEJARAH KAMPUNG KRAPYAK
DESA PANGGUNGHARJO, KECAMATAN SEWON, KABUPATEN BANTUL, D.I. YOGYAKARYA

Kampung Krapyak yang berada di wilayah Desa Panggungharjo Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, secara administratif dibagi menjadi 2 pedukuhan yaitu Pedukuhan Krapyak Wetan dan Pedukuhan Krapyak Kulon. Ketika kita mendengar Kampung Krapyak ini, yang terlintas dimemori kita pastilah Panggung Krapyak atau Kandang Menjangan, sebuah bangunan tua yang berdiri di perempatan jalan berbentuk segi empat, didirikan oleh Sultan Hamengkubuwono I atau Pangeran Mangkubumi, yang merupakan salah satu elemen dari Sumbu Filosofi Kraton Yogyakarta.
Namun apabila kita pelajari lebih jauh, sebenarnya keberadaan penamaan daerah Krapyak memiliki sejarah yang panjang, yakni 160 tahun sebelum adanya Panggung Krapyak atau Kandang Menjangan itu didirikan. Pada tahun 1611-1613 oleh Panembahan Hanyokrowati atau yang lebih dikenal sebagai Pangeran Sedo Krapyak telah didirikan sebuah wilayah hutan rekreasi raja yang berpagar keliling bambu, atau dinamakan krapyak, atau pada waktu itu dikenal dengan nama Krapyak Beringan. Sedangkan pembangunan Panggung Krapyak atau Kandang Menjangan oleh Sultan Hamengkubuwono I atau Pangeran Mangkubumi dilaksanakan pada tahun 1755, fungsi utamanya sudah agak berbeda, kalau pada masa Panembahan Hanyokrowati dipergunakan sebagai wilayah hutan rekreasi raja dengan berburu menjangan/kijang, tetapi pada masa Sultan Hamengkubuwono I atau Pangeran Mangkubumi dipergunakan sebagai tempat olahraga panahan dengan sasaran kijang/menjangan yang telah ditangkarkan di wilayah hutan buatan di sebelah selatan Panggung Krapyak, yang sekarang dikenal sebagai Kampung Janganan. Fungsi lain dari Panggung Krapyak adalah sebagai daerah pertahanan paling luar dari Kraton Yogyakarta, yaitu berfungsi sebagai menara pengawas. Apabila ada musuh atau peristiwa yang mencurigakan dari sisi selatan, maka dapat segera diketahuidari atas Panggung Krapyak dalam jarak pandang 2-3 kilometer, dengan demikian maka prajurit jaga dengan mengendarai kuda bisa segera menyampaikan laporan ke pengawas di Plengkung Nirboyo atau Plengkung Gading untuk disampaikan ke prajurit kawal keraton, atau jika keadaan mendesak karena jarak musuh sudah dekat, maka prajurit jaga bisa menyampaikan kode dengan panah api/panah sendaren atau kode lainnya, yang mana nyala apinya atau kode tersebut dapat dilihat dari Plengkung Nirboyo atau Plengkung Gading sebagai tanda bahaya.
Bagaimanakah prosesi perburuan itu dilakukan ?
Pada masa Panembahan Hanyokrowati (1611), kondisi geografisnya masih berupa hutan belukar, meskipun bukan hutan yang sangat lebat. Raja dan pengawalnya dengan mengendarai kuda memasuki semak belukar tersebut untuk memburu kijang yang berkeliaran. Setelah sampai di tempat tertentu, para pengawal turun dari kuda,  kemudian berusaha menggiring kijang/binatang buruan ke tempat tertentu dengan suara-suara supaya mudah untuk dibidik, yaitu berupa sebilah bambu jenis “apus” yang dibelah tengahnya tetapi tidak sampai pisah pada bagian ruas batangnya, dengan menggerakkan ke depan-belakang maka akan menimbulkan suara berisik prak-prak-prak, peralatan ini sering dinamakan “keprak” , dan prajurit yang menggiring dinamakan “ngrapyak”, pada masa sekarang peralatan ini biasa dipergunakan oleh petani untuk menghalau burung di sawah. Jadi menurut penuturan warga sekitar kata “krapyak” berasal dari kata “ngrapyak” yang berarti menggiring binatang buruan dengan suara-suara yang terbuat dari bambu.
Sedangkan pada masa Sultan Hamengkubuwono I atau Pangeran Mangkubumi (1755), sebagian daerah tersebut sudah ada yang mendiami, bahkan sebagian sudah terdapat sawah atau ladang/tegalan, maka dibuatlah semacam hutan buatan disekitar Panggung Krapyak dan tempat penangkaran kijang atau menjangan untuk mengembang biakkan menjangan tersebut, yang terbuat dari dari pagar keliling bambu anyaman yang dinamakan “krapyak”. Jadi kata “krapyak” berarti kandang binatang dari pagar bambu. Sebagaimana diketahui, bahwa pada tahun 1676  ( yakni 65 tahun pasca meninggalnya Pangeran Sedo Krapyak) oleh Sunan Amangkurat I yang bertahta di Pleret telah dibangun benteng keliling untuk Pesanggrahan Garjitowati,yang berarti “osiking raos ingkang sejatos” (kata hati yang murni), untuk memindahkan Pesanggrahan Ngeksigondo dan menjadi tempat peristirahatan para bangsawan Mataram, namun pembangunan ini terhenti karena adanya Pemberontakan Trunojoyo.Kemudian pada tahun 1719 Sunan Pakubuwono I yang bertahta di Kartasura berniat melanjutkan pembangunan Pesanggrahan Garjitowati tersebut namun keburu wafat, dan digantikan oleh Amangkurat IV. Pada tahun 1745 Sunan Pakubuwono II memindahkan keraton Kartasura ke Surakarta atau Sala, sementara itu di Hutan Paberingan telah dibangun menjadi Kadipaten Mataram di bawah Tumenggung Jayawinata. Bila sebelumnya dipergunakan sebagai tempat peristirahatan, di masa Susuhunan Paku Buwono II telah berubah menjadi tempat pemberhetian layon-layon  (jenazah) para bangsawan Mataram, sebelum kemudian dimakamkan di Imogiri. Pada tahun 1746, dalam pertempuran dengan Surakarta-VOC, Pangeran Mangkubumi terdesak sampai ke lereng Gunung Merapi, tetapi senopatinya yaitu Tumenggung Rangga Wirasentika dapat merebut Kadipaten Mataram dari Tumenggung Jayawinata. Dengan demikian jelaslah bahwa pada saat pembangunan Panggung Krapyak tersebut pada tahun 1755 kondisi alamnya sudah berubah, bukan lagi hutan belantara tetapi sudah ada yang mendiaminya dan bahkan sudah ada sawah dan tegalan yang dikelola untuk penghidupannya, dan disekitar Panggung Krapyak hanyalah hutan-hutan kecil yang rindang atau hutan tanaman industri yang sengaja dibudidayakan untuk diambil hasil kayunya.
Tidak ada dokumen yang mengulas dan menunjukkan secara detail bagaimana prosesi olahraga memanah pada masa itu. Namun dari penuturan masyarakat sekitar secara turun-menurun, dapat digambarkan  sebagai berikut : Jika pada masa Panembahan Hanyokrowati, berburu binatang dilakukan pada pagi hari, tetapi pada masa Sultan Hamengkubuwana ini diselenggarakan pada waktu menjelang sore hari (mungkin sekitar jam 14.00  atau 15.00 sampai waktu Maghrib). Raja dan rombongan para bangsawan keraton naik ke atas bangunan Panggung Krapyak lewat tangga di sisi Barat Laut hingga ke lantai dua bangunan ini, menghadap ke arah selatan. Disamping rombongan dari Keraton Yogyakarta kemungkinan diundang pula para bangsawan dari Kerajaan-Kerajaan sahabat, bahkan juga hadir para pejabat dari Pemerintah Kolonial. Kemudian kijang-kijang hasil penangkaran diambil dari “hutan janganan” dari pagar keliling bambu anyaman yang dinamakan “krapyak”, yang berada di sebelah selatannya dan dilepaskan pada jarak tembak anak panah dari atas bangunan, diiringi dengan gamelan yang ditempatkan dilantai bawah bangunan, para pemanah yang terdiri dari para bangsawan segera membidik kijang-kijang tersebut, dan Raja akan memberikan hadiah khusus pada kijang tertentu yang dijadikan “maskot” pada olah raga memanah kijang tersebut. Kijang yang terkena anak panah dibawa ke bawah bangunan itu juga dan dimasak di tempat tersebut oleh para juru masak keraton yang ikut serta dalam rombongan, kemudian di selenggarakan semacam pesta “barbeque” dengan menu utama daging kijang hasil buruan. Diiringi dengan musik gamelan yang terus mengalun dan juga mungkin dengan menghadirkan para penari keraton, maka pesta berburu itu semakin nampak meriah dan tentu saja sangat disukai oleh para bangsawan keraton dan tamu undangan.
Jadi kata “krapyak” menurut masyarakat sekitar ada 2 versi, yaitu yang pertama berasal dari kata “ngrapyak” yang berarti menggiring binatang buruan dengan suara-suara dari peralatan yang  terbuat dari bambu yang dibelah, sedangkan versi yang ke dua “krapyak” adalah berarti tempat penangkaran hewan buruan yang terbuat dari pagar keliling bambu anyaman.
PEMANDIAN UMBUL KRAPYAK DAN LEGENDA KAWASAN SEGARAN
            Selain dari legenda dan folklor tentang prosesi berburu kijang sebagaimana diuraikan tersebut di atas, masih ada satu sisi lain dari Kampung Krapyak ini yang sangat penting untuk diketahui oleh masyarakat dan membutuhkan riset dan studi yang lebih mendalam, yaitu keberadaan Pemandian Umbul Krapyak dan Kawasan Segaran.
            Lokasi Pemandian Umbul Krapyak terletak di sebelah timur Panggung Krapyak sekitar 400 meter setelah kuburan krapyak, kemudian ada gang masuk keselatan sekitar 100 meter. Kondisinya saat ini sangat memprihatinkan, karena Pemandian Umbul Krapyak yang sebenarnya berukuran cukup besar ini, sekitar 30 x 12 meter, saat ini sudah tidak nampak lagi rata dengan tanah, karena pada waktu terjadi gempa bumi tahun 2006 tempat pemandian ini dipakai untuk pembuangan bongkaran rumah yang hancur akibat gempa. Disebelah timurnya, sekitar tahun 1980an masih terdapat gundukan bangunan yang telah hancur, yang diperkirakan merupakan bangunan rumah yang diperkirakan merupakan sebuah bangunan pesanggrahan yang cukup besar dan juga dikelilingi tembok bata setebal 80 cm yang berjarak sekitar 100 meter dari kompleks Pemandian Umbul Krapyak ini, namun sekitar tahun 1980an juga sudah dihancurkan untuk jalan kampung.
            Didasar kolam Pemandian Umbul Krapyak ini, tepat ditengah kolam terdapat semacam Yoni kecil berukuran 50 x 50 cm dengan tinggi 70 cm  sebagai tempat keluarnya mata air asli dari tanah untuk mengisi kolam Pemandian ini, dan ada  semacam Lingga sebagai penutup berukuran diameter sekitar 10 cm dan panjang 40 cm, yang oleh masyarakat sekitar dikenal sebagai “gandhik”. Ukiran pada Yoni, menurut cerita adalah berbentuk sulur-sulur dan daunan seperti bentuk ukiran bergaya Majapahit. Apabila dilakukan penggalian di kolam Pemandian Umbul Krapyak ini, mungkin masih dapat diketemukan Yoni dan Lingga ini, sehingga dapat dipelajari lebih lanjut.
Di sebelah utara Pemandian Umbul Krapyak saat ini masih terdapat peninggalan sumur tua, yang dimungkinkan masih satu kawasan dengan kompleks Pemandian Umbul Krapyak tersebut. Sumur Krapyak sudah tidak berfungsi lagi sebagai sumur. Kondisinya sudah demikian rusak. Lantai di seputar dinding sumur telah banyak yang pecah dan tidak berbentuk lagi. Bibir atau dinding sumur juga banyak yang pecah. Tiang sebagai sangkutan roda dan tambang untuk menimba air juga tidak ada. Kedalaman asli dari sumur juga tidak kelihatan lagi karena sumur ini telah ditimbun tanah. Kedalam yang dapat dilihat dari sumur ini hanya berukuran sekitar 80 Cm, pada tahun 1980an masih bisa dilihat kedalaman sumur yang tidak pernah kering ini sekitar 8 meter, airnya bening dan segar, biasa ditimba dengan seutas tampar yang dijulurkan kebawah. Diameter dari sumur ini berukuran 115 Cm. Sedang ketebalan bibir sumur adalah 30 Cm. Dinding sumur terbuat dari susunan batu bata dengan perekat berupa campuran beberapa bahan material seperti pasir, gamping, dan batu bata merah yang telah dihaluskan. Demikian pun plester dari sumur ini juga merupakan campuran pasir, batu bata yang dihaluskan, dan gamping. Pada tahun 1975-1980an, Pemandian Umbul Krapyak ini masih sering dipakai untuk mandi anak-anak dan bahkan orang dewasa juga dan sumur tua tersebut biasa juga bisa diminum airnya yang segar langsung dari timba.
Adapun Kawasan Segaran adalah sebuah legenda tentang sebuah danau air asin yang berada disebelah selatan Pemandian Umbul Krapyak. Letak persisnya sekarang di lapangan Krapyak, yang dibangun pada tahun 1988. Sebelum dipakai untuk lapangan sepak bola, daerah ini adalah kawasan persawahan yang subur dan airnya berlimpah, banyak terdapat ikan, karena airnya yang bening mengalir diantara lapisan tanah berpasir. Legenda Kawasan Segaran ini menyebutkan bahwa danau air asin ini berhubungan dengan laut selatan jawa, karena di danau  ini pernah diketemukan ikan jenis “gereh pethek” , yaitu sejenis ikan laut atau ikan payau yang bentuknya pipih melebar, panjang badanya sekitar 5 cm, ikan yang mempunyai nama latin  “Leiognathus Equulus” ini untuk mengkonsumsinya biasa dikeringkan dan diasinkan, cocok untuk tambahan makan gudangan atau pecel dengan digoreng garing sehingga mirip kerupuk ikan.
Menurut penuturan masyarakat sekitar, kondisi danau air asin dengan luas sekitar 3 hektar ini semakin lama semakin melebar, sehingga dikhawatirkan dapat menenggelamkan daerah krapyak dan sekitarnya, maka oleh pihak Kerajaan Mataram (tidak diperoleh informasi di masa pemerintahan siapa) sumber mata air danau air asin atau yang dikenal dengan segaran ini ditutup dengan “Gong Siyem” yaitu sejenis gong yang berdiameter 1 meter terbuat dari logam paduan baja hitam dan perunggu, setelah terlebih dahulu diselenggarakan upacara “tayuban” atau “nanggap ledhek” .
Bukti keberadaan danau air asin ini, sekarang bisa disaksikan di Umbul Sorowajan yang berada di sebelah selatan kampung Krapyak. Mata air yang tidak pernah kering atau surut meskipun di musim kemarau ini, mengeluarkan buih-buih berwarna kuning kehijauan yang merupakan indikasi adanya gas metan, yakni gas dari lapisan batubara muda yang secara geologis merupakan bukti keberadaan tanah rawa-rawa di masa lampau.
Kajian Berdasarkan Artikel Dan Cuplikan Beberapa Buku.
Panembahan Krapyak / Penembahan Hanyokrowati juga ahli dalam membangun diantaranya ; tahun 1603 dibangun Prabyeksa (kediaman raja), tahun 1605 membangun taman Danalaya, tahun 1606 Astana Kapura Ing Kitha Ageng, tahun 1611 dibangun Krapyak Beringan dan masih banyak bangunan lain. Pada bidang sastra tahun 1612 disusun Babad Demak.
Menurut Serat Kandha yang juga disebut oleh babad-babad kerajaan, bahwa pada tahun 1605 Penembahan Hanyokrowati membangun taman Danalaya yang terletak disebelah barat Keraton Mataram,  yang dimaksud di sini ialah penggalian sebuah kolam di dalam taman indah ‘Danalaya’. Juga Babad Sangkala (tahun 1527 J) bercerita tentang sebuah kolam : “ Segaran Ing Sinarbumi ” . Nama terakhir ini menunjukkan terjadinya pengupasan tanah/penggalian dan pengurukan tanah. Dalam Babad Momana, juga disebutkan adanya pembangunan Lumbung di Gading pada tahun 1610, untuk keperluan menampung hasil panen dan persediaan bahan makanan di Kerajaan Mataram.
Dari sini kita mencoba menyatukan 4 hal dalam satu kurun waktu 8 tahun dalam 4 kejadian penting. 1605 membangun taman Danalaya dan Segaran, 1610 membangun Lumbung Gading, 1611 membuat tempat berburu Krapyak Beringan, dan 1613 Pangeran Sedo Krapyak wafat. Taman Danalaya dan Segaran-Lumbung Gading-Krapyak Beringan sampai sekarang posisinya letaknya belum jelas, kecuali Krapyak Beringan. Sangat besar kemungkinan bahwa Lumbung Gading itu berada di sekitar Kampung Gading yang terletak di selatan Plengkung Nirboyo. Maka dapat diasumsikan bahwa Taman Danalaya dan Segaran juga berada di sekitar wilayah itu, dan dapat dimungkinkan bahwa Pemandian Umbul Krapyak dan Kawasan Segaran Krapyak adalah lokasi dimana berada Taman Danalaya dan Segaran itu, atau dengan kata lain bahwa Pemandian Umbul Krapyak adalah Taman Danalaya yang dibangun oleh Panembahan Hanyokrowati pada tahun 1605 sebagaimana tersebut dalam Serat Kandha tersebut. Oleh karena itu diperlukan riset dan penelitian lebih mendalam mengenai keberadaan segitiga emas Danalaya-Gading-Krapyak tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar