Kamis, 28 Mei 2015

MACHINERY ALIGNMENT & BALANCING

MACHINERY ALIGNMENT & BALANCING

Alignment & Balancing  pada mesin-mesin operasional produksi sangat diperlukan untuk menjaga kualitas hasil produksi,meningkatkan umur pakai (life time) & untuk reduce cost. Pemeliharaan atau perawatan mesin merupakan faktor penentu apakah performa mesin dalam keadaan  baik atau tidak untuk dioperasikan berdasarkan  jangka waktu yang telah ditentukan. Produksivitas mesin yang diinginkan tidak akan tercapai jika pemeliharaan mesin tidak diselenggarakan dengan terstruktur (dijadwalkan). Anda dapat memperpanjang  umur mesin dengan melakukan perawatan mesin terstruktur. Berikan perawatan pada mesin anda dengan condition monitoring sehingga meminimalisir biaya tidak terduga dan menghindari kemungkinan  terjadinya misalignment pada mesin.
Alignment adalah suatu pekerjaan atau proses mensimetriskan kedua objek atau sumbu poros sehingga sentris antara poros penggerak dengan sumbu poros yang digerakan dengan dua tumpuan saling berkaitan. Tetapi dalam kenyataannya pengertian lurus tidak bisa didapatkan 100% sehingga harus diberikan toleransi kurang dari 0,05 mm, untuk mendapatkan kesentrisan antara kedua poros pemutaran dan poros yang diputar hingga tidak menimbulkan gesekan, getaran, dan faktor-faktor lainnya.
Sedangkan Definis Balancing sendiri adalah suatu proses memperbaiki distribusi massa pada rotor yang berputar dengan menambahkan atau mengurangkan massa pada rotor yang bertujuan mengurangi gaya Centrifugal yang bekerja pada bantalan (bearing) yang nantinya akan menghasilkan keseimbangan yang baik pada rotor. Proses ini dilakukan dengan mesin balancing yang terdiri dari beberapa varian seperti High Speed Balancing Machine, Horizontal Balancing Machine, Vertical Balancing dan beberapa varian lain yang terbagi berdasarkan jenis, fungsi dan spesifikasi Balancing Machine
Untuk dapat melakukan balancing & alignment mesin atau peralatan dengan benar, maka sebagai operator & teknisi harus memahami benar bagaimana pondasi atau konstruksi mesin yang digunakan, karakter poros & bantalan, serta sistem & alur kerja peralatan tersebut. Kesalahan dalam balancing akan mempengaruhi kinerja mesin & kualitas hasil produksi (output) pada alat & dapat mengakibatkan kerusakan alat yg harus dihindari. Pentingnya cara pengoperasikan mesin untuk menjaga kesimetrisan dan kinerja mesin anda, mayoritas langkah - langkah pengoperasian mesin adalah memilih mesin sesuai kebutuhan perusahaan, setelah itu melakukan pemasangan atau perakitan mesin sesuai dengan standarisasi mutu mesin tersebut, maka mesin siap di operasikan. Standard Operating Procedure (standarisasi prosedur operasi mesin) dan check list (daftar data) harus dibuat agar langkahh-langkah  mengoperasikan terjaga, terstruktur, baik dan benar. Kesalahan langkah dalam pengoperasian mesin dapat berakibat pengikisan komponen pada mesin yang dapat menyebabkan kerusakan salah satu komponen pada mesin, bahkan dapat mengakibatkan kerusakan komponen mesin dan mesin lainnya yang terkait, kesalah langkah dalam pengoperasian mesin dapat menyebabkan kejadian-kejadian  yang tidak diinginkan terhadap sumber daya manusia yang berperan.

Outline :
1.            Introduction to Predictive maintenance & machinery monitoring
2.            Importance of Proper Alignment
·         Extended Seal Life
·         Extended Bearing Life
·         Smoother / Quieter Operation
·         Extended coupling life
3.            Types of alignment:
·         Straight Edge and Flash Light Method
·         Reverse Dial Indicator Method
·         Rim & Face Method (Double Dial Indicator)
·         Laser
4.            Preliminary Checks Before Starting Alignment
·         Baseplate
·         Shaft run-out and end-float
·         Existing shims
·         Inspect Couplings
5.            Alignment Checks
·         Factory pre-alignment
·         Alignment before grouting baseplate
·         After Grouting Baseplate
6.            Balancing basic theory
·         Types unbalance
·         Purpose balancing
·         Causes unbalancing
·         Units unbalance
·         Effect unbalance on rotational speed
7.            Balancing machine
·         Gravity machines
·         Centrifugal machines
·         Hard bearing machine
·         Testing balancing machine
8.            Balance tolerance and Field Balancing

Peserta :
Bagian Perawatan Mesin, Operator mesin, enjineering, teknisi,  maupun bagian dan devisi lain yang berkaitan dengan kestabilan dan keamanan pada mesin produksi


Senin, 13 April 2015

Konsep Desain Instalasi Pengolahan Air Limbah Skala Komunal



Konsep Desain Instalasi Pengolahan Air Limbah Skala Komunal

Air limbah yang belum diolah memiliki berbagai komponen yang tidak diinginkan, diantaranya akan menghabiskan cadangan oksigen (oxygen budget) jika dibuang ke dalam badan air (receiving area) dan dapat merangsang pertumbuhan mikroorganisme tertentu, seperti alga. Komponenkomponen yang tidak diharapkan ini terdiri dari zatzat organik dan anorganik, maupun material-materialterlarut atau tidak terlarut [1]. Mengingat besarnya pencemar pada sungai di Jakarta, maka perlu dipikirkan adanya instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dalam skala komunal, sehingga diharapkan air limbah dapat memenuhi persyaratan ambang batas baku mutu yang ditetapkan oleh pemerintah.
Tipe limbah domestik dan industri sebaiknya tidak dibuat dalam sistem tercampur. Hal ini disebabkan karena limbah domestik memiliki kandungan organik yang tinggi dan bersifat tidak berbahaya bagi lingkungan,  sedangkan limbah domestik bersifat sebaliknya. Alternatif terbaik untuk mengolah air limbah yaitu dengan membuat unit Anerobic Baffled Reactor (ABR) bagi limbah domestik dan unit IPAL bagi limbah industri.
Desain ABR Komunal
ABR adalah teknologi septik tank yang dimodifikasi karena adanya deretan dinding penyekat yang memaksa air limbah mengalir melewatinya. Peningkatan waktu kontak dengan biomas aktif menghasilkan perbaikan pengolahan [2]. ABR dirancang agar alirannya turun naik seperti terlihat pada Gambar 1. Aliran seperti ini menyebabkan aliran  air limbah yang masuk lebih intensif terkontak dengan biomassa anaerobik, sehingga meningkatkan kinerja  pengolahan [3]. Penurunan BOD dalam ABR lebih tinggi daripada tangki septik, yaitu sekitar 70-95%.  Perhitungan estimasi kapasitas ABR ditentukan dari debit daerah pelayanan, waktu asumsi pengurasan, rata-rata lumpur dan asumsi jumlah air limbah yang dihasilkan untuk satu orang setiap hari. Semakin besar debit dan semakin lama waktu pengurasan, maka dimensi unit pengolahan besar.

Contoh studi kasus ditujukan untuk Kelurahan Pademangan Timur, Jakarta Utara yang berlokasi pada
daerah aliran Sungai Ciliwung dan Sungai Sunter.
Asumsi awal perhitungan estimasi kapasitas tangki septik yang akan digunakan untuk melayani 40.745 jiwa (2011) adalah:
a. 1 unit ABR digunakan untuk daerah pelayanan sebanyak 5000 jiwa.
b. Waktu asumsi pengurasan direncanakan setiap (N) 2 tahun [2].
c. Rata-rata lumpur terkumpul liter/orang/tahun adalah 40 liter untuk air limbah dari WC.
d. Air limbah yang dihasilkan tiap orang/hari adalah 10 liter/orang/hari (tangki ABR hanya untuk menampung limbah WC).

Estimasi perhitungan dari asumsi di atas adalahsebagai berikut:

a.       Kebutuhan kapasitas penampung untuk lumpur (A), adalah:
A = P . N . S .............................. (1)
Dengan:
A = Penampungan lumpur yang diperlukan (dalam liter)
P = Jumlah orang yang diperkirakan menggunakan tangki septik
N = Jumlah tahun jangka waktu pengurasanlumpur
S = Rata-rata lumpur terkumpul (liter/orang/tahun).
Sehingga:
A = 5000 orang x 2 tahun x 40 liter/orang/ tahun = 400.000 liter = 400 m3

b.      Keperluan waktu penahan minimum dalam satu hari (Th), adalah:
Th = 2,5 - (0,3 log (P.Q) > 0,5 ... (2)
Dengan:
Th = Keperluan waktu penahanan minimum untuk pengendapan > 0,5 l/hari
P = Jumlah orang
Q = Banyaknya aliran, liter/orang/hari
Sehingga:
Th = 2,5 – 0,3 log (5000 org x 10 liter/org/ hari) > 0,5 = 1,09 > 0,5 liter/hari (OK)

c.       Kebutuhan kapasitas penampung air (B), adalah:
B = P . Q . Th ............................ (3)
Sehingga:
B = 10.000 orang . 10 liter/orang/hari . 1,09 liter/hari = 54500 liter = 54,5 m3

d.      Volume tangki ABR komunal = A + B = (400 + 54,5) m3 = 454,5 m3

e.      Dimensi tangki ABR komunal adalah:
Tinggi tangki ABR (h) = 2 m + 0,3 m (free board /tinggi jagaan)
Perbandingan lebar tangki ABR (L) : panjang ABR (P) = 1 : 2
Lebar tangki ABR (L) = 10 m
Panjang tangki ABR (P) = 20 m
Direncanakan unit tangki terdiri dari empat (4) ruang sekat yang berbentuk baffled, dengan
perbandingan panjang antara ruang pengendap dan ruang sekat adalah 1: 1.
Sehingga: P ruang pengendap ABR = 10 m. P satu (1) ruang sekat ABR = 2,5 m
Dari hasil perhitungan di atas, untuk melayani total jumlah penduduk Kelurahan Pademangan Timur
dibutuhkan sekitar delapan (8) buah tangki ABR dengan total luas daerah yang harus disediakan
sebesar 1600 m2.
Sumber : https://www.academia.edu/2143463/Konsep_Desain_Instalasi_Pengolahan_Air_Limbah_Skala_Komunal_Dalam_Rangka_Purifikasi_Kualitas_Air_Sungai_Di_Jakarta?auto=download&campaign=upload_email